Mobil Buatan Institut Teknologi Medan Lahap Sirkuit Sepang Malaysia

Mobil buatan Institut Teknologi Medan kembali bertarung di ajang kompetisi mobil irit tingkat Asia 2019 di Sirkuit sepang malaysia. Mobil buatan ITM ini bergabung dengan 25 mobil buatan lainnya dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahun 2019 ini, ITM dipercaya mengirimkan mobil dari kelas ICE Proto Type Diesel, setelah beberapa tahun lalu 2017 dan 2018 mengirimkan mobil pada kelas  ICE Urban dengan bahan Bakar Alternatif Ethanol.

Kompetisi ini di selanggarakan oleh Shell Global/Shell Eco-Marathon  (SEM) dengan tema Shell Make the Future Live Malaysia 2019. Kompetisi ini berlangsung dari tanggal 28 April 2019 s.d 02 Mei 2019 di Sirkuit International Sepang Malaysia. Tujuan kompetisi ini adalah menciptakan suatu teknologi pada mobil yang sehemat mungkin dengan berbagai sumber energi. Selain itu Shell berupaya untuk menyadarkan dan mengajak generasi millennials untuk mencari solusi menghadapi energi di masa depan.

Meskipun SEM pernah diadakan pada 2018 lalu, SEM 2019 memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari peserta yang lebih banyak hingga adanya inovasi yang terbaru. Tahun ini kita melihat banyak sekali inovasi-inovasi yang baru dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini peserta sangat kompetitif dan lebih disiplin. Dalam SEM Asia 2019, mobil yang ikut serta dalam perlombaan hanya boleh menggunakan tiga jenis sumber energi. Di antaranya Internal Combustion (ICE)  atau di Indonesia kita lebih mengenalnya dengan istilah ‘bahan bakar’ seperti bensin, solar, dan ethanol. Kedua, sumber energi dari baterai listrik, seperti mobil listrik pada umumnya. Dan yang ketiga, sumber energi dari hydrogen yang berupa gas hydrogen. Jika mendengar kata balapan, pasti yang langsung terbayang adalah saling susul ataupun adu kecepatan. Namun, SEM Asia 2019 tidak melihat dari segi kecepatan, melainkan siapa yang terhemat. Dari beberapa kategori sumber energi, kecepatan mobil dilihat dari satuan pemakaian energi. Untuk tipe internal combustion dilihat dari berapa kilometer per liter. Sama seperti menghitung konsumsi bahan bakar mobil pada umumnya. Sementara, pada energi baterai dilihat berapa km/Kwh. Begitu juga dengan energi hydrogen, dilihat berapa m3/liter.

Pada hari pertama lomba sebelum kendaraan diizinkan untuk berada di lintasan, terdapat technical inspection yang harus diikuti setiap tim. Setiap tim wajib menjelaskan tiap aspek kendaraannya mulai dari desain, safety, hingga demo kemampuan driver. Hal tersebut tentu saja supaya perlombaan berlangsung aman,” jelas Mahasiswa Teknik Mesin 2015 Darwin Sudarmanto selaku Manager Tim. Tim ini berkekuatan 12 orang yang terdiri dari 1 orang dosen pembimbing 10 orang mahasiswa.

Pada ajang SEM Asia 2019 Tim Mobil Irit ITM hanya menargetkan finish pada peringkat 2 kelas ICE Proto Type Diesel dan berada pada 20 mobil terbaik Asia di Kelas ICE Campuran, dan kedua target tersebut bisa di capai kali ini. Diluar dugaan Mobil irit ITM mampu menjadi mobil kedua tercepat dalam technical inspection di hari pertama setelah mobil Rakata dari ITB. Target tersebut sudah di prediksi dari persiapan selama 1 tahun pembuatan mobil. Dan tim Mobil irit ITM menyadari hal tersebut, untuk menjadi juara 1 butuh waktu, dana dan banyaknya jam dalam kompetisi.

Dari hari pertama sampai hari terakhir, Mobil Irit ITM mampu melahap seluruh Race yang di tentukan panitia. Dan tahun ini Tim Mobil Irit ITM mampu menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari persiapan dan dukungan yang ada saat ini.

Selain itu terima kasih kami sebagai Tim kepada Yayasan Dwiwarna Medan, Rektor ITM dan seluruh jajarannya yang telah mendukung tim ini untuk kembali berkompetisi tahun 2019 dan tak terlupakan adalah keluarga adik-adik mahasiswa Teknik Mesin yang sudah mempercayakan ITM sebagai kampus yang unggul dalam bidang Teknik.